Kartini yang tak harum kisahnya

 

Kemarin, tepatnya 21 April adalah hari dimana para bocah kecil, laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian adat lalu pawai dijalanan. Biasanya, anak laki – laki akan memakai pakaian tentara atau polisi dengan bangganya ataupun perempuan memakai kebaya juga pakaian adat wanita dari berbagai daerah. Semuanya seakan akan bersuka cita, melupakan terik matahari, lupa bahwa tadi pagi terburu buru untuk mengantar ke salon, semua kegabukan terlupakan ketika para peserta pawai memasuki jalanan. Mereka terlihat lucu dan gagah.

Euphoria Kartini memang tidak hanya dirasakan para anak kecil tersebut. Di kehidupan dunia maya, hampir semua mengucapkan selamat bagi perempuan yang terkenal lewat surat suratnya tersebut. Ulasan mengenai surat surat yang dikimkan perempuan bangsawan Jepara ini bertebaran di linimasa. Kartini sangat tegar “berdiri” diantara gempuran berita seputar gadis SMA yang diperkosa lalu dibakar ataupun penculikan seorang Guru Paud di Aceh yang tak kunjung ditemukan.

Masalah pendidikan dan kebebasan memang menjadi pertanyaan besar bagi Kartini di tahun 1900-an. Mengapa perempuan tidak bisa mengenyam pendidikan seperti halnya kaum lelaki? Mengapa untuk berjalan pun perempuan diatur sedangkan laki laki tidak? Kartini lalu menuliskan surat kepada teman temannya dan saat ini angin sejuk atas harapan harapannya terjawab. Perempuan bisa mengenyam bangku pendidikan, perempuan bebas berpidato diatas podium dan menjadi menteri, perempuan bisa memperbaiki sanggulnya bahkan sambil berlari tanpa ada yang mencaci. Perempuan mendapatkan “singgasana” dimata dunia.

 

Nyatanya, singgasana tersebut terkadang ditukar sendiri oleh perempuan dengan rela dimadu oleh pejabat negara, menjadi korban KDRT baik didalam keluarga maupun hubungan berpacaran ataupun pasrah menjadi perempuan yang tidak bisa mengubah nasibnya sendiri. Menjadi rela kalah telak oleh keadaan yang sebenarnya bisa diperbaiki. Lalu kembali berteriak keras “kami perempuan lemah, lindungi kami!”. Perempuan entah dikutuk atau kenapa, kadang mencari aman dengan menganggap bahwa mereka selalu lemah tak berdaya.

Mungkin hanya segelintir yang demikian, tapi lebih dari itu banyak perempuan yang harus meregang nyawa ataupun berjuang sangat keras demi melawan kerasnya dunia yang tak hanya mempertanyakan soal pendidikan dan kebebasan saja. Cut Nyak Dhien dengan gagahnya menunggangi Kuda memimpin prajurit perang dalam mempertahankan Aceh. Ratu Safiatuddin “menampar” persepsi umum bahwa perempuan tak becus memerintah suatu wilayah. Laksamana Malahayati mungkin adalah satu-satunya pejuang wanita yang membuat saya percaya bahwa nenek moyang kita adalah pelaut, karena beliau mampu mengendalikan armada tentara Laut dengan gagah berani.

Kemerdekaan sudah ditangan, begitu menurut buku Sejarah Indonesia. Kita merdeka di tahun 1945 dengan diproklamirkan oleh Bung Karno dan Hatta. Merdeka dan diakui kedaulatan negara oleh dunia memang sudah menjadi takdir Indonesia. Tapi entah kenapa sampai saat ini Indonesia belum bisa memerdekakan dirinya sendiri khususnya kaum perempuan. Rasa aman menjadi amat mahal harganya bagi wanita. Layaknya rakyat merdeka, harusnya tidak ada lagi perempuan yang harus banting tulang bekerja dipertambangan, menjadi TKW di negeri orang lalu ketika mati tak pernah dipertanyakan ataupun menjadi pemuas nafsu di emperan jalan berdiri dengan dandanan menor demi asap dapur mengepul dan sederetan kisah kelam Kartini masa kini.

 

Sebenarnya luka kelam Kartini terlalu langgeng dipertahankan oleh zaman. Seakan tak pernah selesai seperti ensiklopedia berisi penjagalan dan pelecehan seksual tanpa nomor seri. Dimulai sejak masa Konflik dibeberapa daerah seperti Aceh, Poso, dll, terlalu banyak “Kartini” yang harus terobek kebaya nya oleh para manusia manusia bejat, Marsinah yang merupakan “Kartini” para buruh yang masih dipertanyakan mengapa ia dibunuh dengan cara sangat kejam dan pelaku sampai saat ini masih tertawa terbahak bahak. Terlalu banyak bagian hitam dalam sejarah perempuan di Indonesia. Habislah Gelap Terbitlah Terang seperti hanya enak didengar sebagai judul buku paling laris sepanjang zaman. Atau jangan-jangan,  sebenarnya ada yang mematikan sang terang ketika hampir terbit?

“Ibu kita Kartini

Putri sejati

Putri Indonesia

Harum namanya”

 

 

 

 

 

*Teruntuk para Kartini yang sedang berjuang dalam kegelapan, yang mati tapi tak dipertanyakan,ataupun luput dari keadilan. Nyalakan terang kalian!”

Advertisements

Biru

BiruImage

*sepatu biru kesayangan*

 

Kata orang biru itu kelabu. Ah, tidak juga. Buktinya banyak anak muda bahkan manula suka film Biru. Membicarakan biru memang tidak sebatas warna atau kondisi perasaan.  Aku menyukai Biru. Bukan warna biru. Tapi, ketika SMU aku pernah tergila gila pada Biru muda. Sekarang tidak lagi, aku masih suka pada Kuning. Mungkin karena partai Biru tak lagi menarik #loh.  Mari meluaskan Biru. Saya lebih teringat akan Laut dan langit jika Biru disebut.

Ombak, laut dan langit ibarat seperangkat alat ginting ganja yang bisa memabukkan dan membikin lupa siapa presiden mu saat ini. Saya menjelma menjadi pecandu ombak dan aroma pasir asin laut setelah menghabiskan masa kecil sebagai manusia takut laut. Saya pernah takut laut sampai saya dengar orang bilang “kalau kamu takut laut, berarti dosamu banyak”. Entah sejak kapan saya mengenal dosa lalu takut. Semasa kecil. Dan sekarang saya tak lagi takut laut. Apa karena saya sudah berbeda menyikapi dosa? Tidak usah membahas dosa nanti saya berdosa.

Image

*Pantai Biru Tuhan Punya*

Lalu biru siapa punya? Biru punya siapapun yang menikmatinya.

Pilih saja Biru-mu.

Ingin Biru dalam partai, Biru dalam keadaan, atau lebih tertarik pada film Biru?

Aku pilih Biru dalam Laut.

Kan aku sudah bilang, aku pecandu ombak dan aroma asin pasir laut.

Image

 

WARNING!!

Berhubung saya ngetiknya pas malam, jadi saya nulis “selamat malam” dong yaaaa 😀

Selamat membaca di SKOETERKOENING.WORDPRESS.COM. ini merupakan lanjutan dr skuterkoening.blogspot.com yang saya lupa apa namanya sekarang karena sudah saya ganti. Maklum diiing, eike susah ngingat L. Di blog ini, eike punya semacam serial yang mana isinya beda dari tulisan yang lain. Ini merupakan perwujudan si penulis yang hobi siaran tapi dituliskan. Nama serial blognya adalah “RADIO BLOG FM : BERJAYA DI UDARA, GARANG DI TULISAN” :D.

Diserial tersebut yang siaran adalah Madam Tauge. Dia menerima curhatan ataupun buat pendengar yang stuck bingung musti ngapain karena lagi ngadapin masalah. Mau itu masalah hati, perasaan, jeroan atau apapun,  bisa minta solusi ama ini orang. Tenaaaaang, dia bukan guru spiritual ataupun apapun. Ini adalah rubrik khusus barengan Madam Tauge bukan Madam Hamidah. Jadi yang pengen tanya tanya bisa email aja ke Madam.tauge@yahoo.com . Dan setiap curhatan bakal disiarkan lewat tulisan di blog ini. Info lebih lanjut jangan #Tanya warga apalagi #tanya mama dedeh, sila ditinggalkan comment pada artikel 😀

TERIMAKASIH  😉

 

Madam Tauge SHOW! sebelum terlalu jauh..

Radio Blog FM!

Berjaya Diudara, Garang lewat tulisan.

 

Sebelum Terlalu Jauh..

Selamat malam para pembaca yang membutuhkan kataaaaa, (haseeeeeeeeeek!),

Langsung disiarkan tanpa pemancar lewat sepersekian seperampat FM, Madam Tauge Show hadeeeerrrrrrr! Menuntaskan masalah tanpa bermasalah apalagi cari masalah. Tetep stay tune terus barengan Madam sampai waktu yang tidak ditentukan apalagi diwajibkan! Heuheu.

Edisi perdana yak? Iya sih, heuheu. Hari ini kan,  daritadi itu madam sibuk ngeliatin adik madam yang mau ikut se-nam-pe-te-en. Senam PTN ini bukan senam yang dilakukan mahasiswa dipagi hari tiap jumat ya, ini adalah sejenis cara menuju perguruan tinggi.  Jadi doski itu bingung mau kuliah dimana. Mau jadi polisi? Tapi takut penjahat. Mau jadi dokter? Takut sama mayat. Mau jadi Teller Bank? Takut kurang cakep. Nah, karena doski lagi bingung kepalang melanglang mikir buat menentukan langkah buat masa depannya, eike sebagai kakak yang baik ingin memberi ilham lewat tulisan, hwaaaseeeeek !

“Sebelum terlalu jauh”-à kedengarannya kayak perempuan yang baru memulai hubungan,terus diajak kawin, terus langsung deh menyodorkan sejumlah “syarat” sebagai penguat? Bwahahahaa!

Nope, madam  ga bakal ngomongin soal seperangkat alat sholat dan ritualnya kok. Madam kan belum pernah jadi pengantin *winkwink*.  Pernah  gak sih, kita bingung ketika mau memulai sesuatu? Memang sih yang susah didalam hidup ini bukan menjalaninya tapi membikin keputusan dalam hidup, jreeeeng jreeeeeeeeeng *bunyi gitar Haji Rhoma*.  Keputusan ini jadi berharga banget gara gara siapa coba?(jadi stop menyalahkan harga bawang naik, salahin yang bikin harganya naik #loh). Sebuah keputusan menjadi sangat berharga karena WAKTU.

Yes! Waktu dinilai sebagai hal paling mahal daripada emas dimuka bumi ini. Sebenarnya saya juga heran sih kenapa alat tukar itu jadinya duit bukan waktu. Waktu memang megang andil dalam banyak hal kalo bahasa kerennya sih “Timing”. So right timing drag you to the right moment. Misal :

A : “K4mu m4u 64k j4di p4c412 4ko33h?”

(message sent. Seorang cowok ngirim sms buat gebetannya)

Beberapa menit kemudian…………

B : leh deh J

(ceweknya balas sms)

Dengan direstui kelancaran jaringan provider dan keteguhan hati  pasangan serta persetujuan semesta, sepasang Adam Hawa ini pun menjadi sepasang kekasih.

 

Siapa pemegang andil disini? Jelas sang WAKTU. Ternyata si cowok berada di waktu yang tepat buat menyatakan cinta ke si cewek. Ternyata waktu itu si cewek lagi gak PMS, jadi ga marah marah atau terlalu senang berlebihan karena di “tembak”.

Note:

Buat para syowok syowoook! Elu ga ada apa apanya kalo Cuma bisa menjinakkan preman bertubuh kekar dan tatoan kalajengking. Perempuan yang lagi PMS itu mood nya adalah turunan mood moyangnya kalajengking raksasa jaman Firaun. Kalo lagi senang, bukan gak mungkin mereka bisa nari-nari dijalan dan ga peduli dianggap orang gila. Dan kalo lagi marah, mending jangan sms deh karena palingan hpnya udah dibanting ke dinding. SO! Jangan cari masalah sama perempuan PMS J

Dan di waktu tersebut, keputusan yang diambil kedua pihak tepat. Jadilah mereka berbahagia di waktu yang tepat *senyumibuperi3jari*

 

Siapa bilang waktu ama keputusan gak bersatu? Mereka berhubungan tau! Ibaratnya ga ada sinta, maka ga ada juga jojo dan ga ada juga keputusan mereka buat lipsync di yutube dan ga bakal ada juga waktu buat mereka terkenal lewat lagu Keong Racun (ini sama sekali bukan konspirasi petani sama keong racun yaaa! Bukan!).

Sekarang yuk kita balik ke jaman yang paling hits sepanjang hidup, zaman putih abu abu *pasangformasicheerleader*. Waktu di SMA, kayaknya berat banget ya musti mutusin mau kuliah dimana. Mungkin waktu itu kamu langsung kebayang “wuisss, kalo masuk kedokteran pasti keren” sekeren punya pacar seorang ketua OSIS. Ataupun, “eh, kita kuliah di di ekonomi aja, biar sekelas, biar bisa gahul bareeeeeeeeeng”.  Nah, pernah gak sih terlintas alasan buat kuliah dijurusan sama karena pengen terus2an bareng?  (contoh kasus : kegalauan adiknya madam).

Mari berfikir Realistis!

Jangan pernah deh kuliah ditempat yang kita yakin kita ga bisa. Kamu mau kuliah di Ekonomi, tapi kamu bahkan gak ngerti cara ngitung neraca laba rugi secara lebih terbiasa ngobrolin surga neraka. Tapi karena temen se-geng pada kuliah disitu kamu ngikut. Atau kuliah pun musti “disuap” a.k.a ditentuin sama orang tua padahal kamu tahu kamu ga bakal suka kuliah disitu. Kalo kamu yakin bisa, gpp deh, tapi kalo ga yakin mending nolak dari awal. Daripada entar ngedumel ditengah jalan atau menggerutu pas mau skripsi, itu mah kayak udah bikin nasi jadi lem ibaratnya. Etapi sebenarnya bukan masalah suka ga suka sih, tapi kalo memang kamu tipe yang keras hati, percayalah.. itu bakal susah. Musti effort lebih biar suka.  DANG! You have to make a desicion.

Jreeeeng..jreeeeng..jreeeeeeeeeeeeeeeeeeng ! *kembaligitarhajiRhomabunyi*

Terus gimana dooong sebelum terlalu jauh? Gimana dong biar ga nyalah nyalahin waktuuuu?

  1. BERFIKIR!

Pilihan selalu ada ketika kamu hidup. Pikirkan tiap pilihan secara detail baik keuntungan maupun ketidakuntungannya. Tapi jangan kebanyakan mikir juga. Mikir itu sama kayak makan, jangan berlebihan.

  1. TAKE ACTION

Udah  mikir konsekwensinya, udah mikir baik dan buruknya. Ambil aksi. Kalo ga ya sama aja   keleeeeeeesss -_____________- . kalo udah ambil aksi, ibaratnya udah ngeludah. Memang mau jilatin balik ludah yang udah diinjek ratusan kaki manusia? Wuueeek! Saya sih ogah.

  1. BERUSAHA

Berusaha menjalani segala bentuk keputusan yang udah kamu pilih. Ngeluh wajar tapi jangan dijadikan sebuah kewajaran dooooong!

  1. BERDOA

Nah, udah mikir, udah ngejalanin dan sudah berusaha sekuat semen andalas dalam menjalani tiap keputusan maka kamu jangaaaaan lupaaaa  berdoa. Yes, God works in mysterious way. Jadi jangan sok ganteng atau sok kecakepan deh kalo masih sombong dan gak mau berdoa.

Udah tau kan apa yang harus dilakukan? Nah kalo udah yakin dengan keputusan yang kamu “ketok palu” saat ini, semoga itu yang terbaik. Jadiiii , gak perlu lagi kan mandi kembang tujuh rupa dengan tujuh macam mata air.  Keputusan yang tepat bisa menjadikan kamu survive di segala waktu, karena preparation-nya udah ada.

YANG TERPENTING!  jurusan apapun, kampus manapun, semuanya kece cuy. Jadi hilangkanlah pikiran bahwa kampus A lebih paten dari kampus B. Ataupun, kuliah di jurusan A bakal lebih cepat dapet kerja daripada di jurusan B. Hilangkanlah semua paradigma zaman batu tersebut. Meeeeeen! Tidak ada jurusan atau kampus negeri/ swasta yang bisa jamin lulusannya langsung ditampung buat dapet kerja atau langsung jadi PNS. Memangnya tahun 1960an dimana sarjana bisa diitung pake jari. Sekarang mah sarjana udah kayak lidi di sapu lidi banyaknya.  Semua butuh usaha, selalu ada keringat dalam setiap kerja keras. Makanya, kalo mau ga keringatan dan tetap kering setiap saat, pakai deodorant!

Sekian dari Madam Tauge! Salam subur supaya tetap damai seumur hidup 😀

 

Bukan untuk di caci !

Ketidakmungkinan adalah teman dari kemungkinan. Mereka sangat akrab sampai manusia menganggap hanya ketidakmungkinan yang lebih dominan daripada kemungkinan. Mungkin karena itu juga mereka tetanggaan dengan pesimistis dan optimistis. Yang jelas, kita dan mereka semua seperti koin, bertolak belakang tapi selalu mengiringi. Dan saya mengalami kepesimisan di hari minggu sampai saya menganggap “saya tidak punya hari minggu” pekan kemarin. Seharian penuh saya mengikuti pelatihan untuk proses skripsi saya. Dari semua materi, awalnya saya menganggap, sumpah ini payah sekali. Saya membayangkan banyak istilah dan sistem yang harus saya kuasai guna mendukung proses itu. Kala itu saya gelagapan jadinya. Seharian penuh juga saya berhasrat ingin cabut dari kelas. Yah, berbagai turunan syaitonirrajim membisikkan godaan di kuping saya. Yang saya inginkan saat itu hanya satu , pulang !

Mungkin ada banyak orang yang seperti saya. Malas mendekam di suatu keadaan yang dianggap membosankan padahal itu penting. Sama halnya dengan ketika kita harus menjalani proses. Iya, sebuah proses. Tidak semua orang bertahan ataupun bahkan punya keinginan untuk menjalani proses. Karena secara mata telanjang dan pemikiran , kita Cuma mikir “iya benar, proses gak enak. Adakah yang instan?”

Kita ambil contoh kecil yang mungkin sering kita lakukan sebagai seorang pengguna jalan. Jalanan banda aceh sering dibuat ribet kali ini dengan potongan atau belokan jalan yang lebih jauh dari tujuan dan mengharuskan si pengendara agar memutar dulu kendaraan dan itu memakan waktu. Tapi sebagian besar orang selalu mnggunakan sebuah shortcut, ya memutuskan berjalan di jalur yang berlawanan arah. Mungkin memang nyawa sekarang lebih murah daripada waktu. Kan waktu adalah emas, dan emas adalah logam mulia paling mahal, hehehe.

Secara gak langsung, kita men- skip proses kan? Kita men- skip proses untuk muter jalan dengan alur yang baik dan lebih milih jalan dari jalur berlawanan. Padahal jelas resikonya berjudul : bahaya.  Memang dalam hidup, ada pilihan untuk melawan arus atau mati dalam arus yang sudah ditentukan. Tapi gak ada kan pilihan buat minum racun terus nari nari karena mati dengan hal instan yang kita buat. Kalopun itu jadi pilihan, saya rasa itu pilihan paling buruk.

“Lebih baik kamu kalah karena memang kamu kalah dari pada kamu kalah karena yasudahlah” , Artinya tipe “kalah yasudahlah” adalah kamu tidak berusaha sebelum kalah dalam artian pasrah sebelum berperang.kalah karena memang kalah artinya kamu sudah sangat amat berusaha, tapi memang apa yang kamu harap bukan jadi milikmu, dan ini jelas punya proses.

Tapi dibalik semua itu, kemarin teman  saya membuktikan pada saya kekuatan percaya diri dan proses (bye bye pesimis, kita putus). Dia mendapat sebuah project di hari minggu dimana seluruh anak buah nya libur. Dia duduk di depan laptopnya, mencari apa yang harus dia cari dengan keyakinan penuh. Penuh sekali. Saya hanya gak membayangkan musti ada di posisinya. Dia melakukan proses dengan baik dan alhamdulillah, apa yang dia inginkan tercapai. Padahal memang kalau dipikir secara logika, gak mungkin menyusuun preparation serumit itu dalam waktu sesingkat itu. Dan seringkali kita sebagai manusia lebih sering berpikir dan membayangkan dan (buruknya) menanamkan pada susunan syaraf otak bahwa ini tidak mungkin, iya itu adalah kemungkinan yang sering di lakukan. Tapi teman saya dengan keyakinan, dia bisa melewati proses itu. Harapan jadi nyata dalam tangannya. Dan dari hari itu, saya seperti dipaparkan sebuah kenyataan bahwa “Heeyy, keyakinan itu hidup. Dia bukan sekedar sugesti positif”.  Hal ini terus saya ingat sampai di pagi senin saya olahraga pagi, mungkin semangat yang membuat saya pagi itu melihat langit terasa beda dan memang dengan sesuatu yang beda, kepercayaan diri dan keyakinan saya mulai beda. Saya mulai percaya 100% “ dalam ketidakmungkinan ada kemungkinan”.

Setidaknya apa yang teman saya lakukan bisa menjadi suatu pencarahan buat saya. Dan sejak hari itu, saya rasa saya harus mencabut sugesti bosan dalam diri saya saat mengikuti kuliah umum saya. Toh ini proses yang akan mempermudah saya. Saya hanya harus bertahan di beberapa step lagi : micro – ppl – kpm- wisuda. Saya butuh semangat. Dan sekitar saya adalah semangat yang senantiasa bisa mendorong saya agar lebih bekerja keras untuk itu.

Terima kasih Tuhan untuk badmood saya di hari minggu, mungkin kalo saya ga badmood saya gak bakal menyadari ada cahaya dalam proses ini. Terkadang ketika kamu ketusuk paku, kamu gak perlu memaki paku dan merasa diri bodoh karena ga liat itu paku kecil, tapi musti bersyukur sudah menjalani proses kenak paku dan sakit kaki karena ini bakal buat kita agar tidak tidak teledor lagi dan tahu rupanya kenak paku sakit ya, ga Cuma dalam bayangan fikiran tapi kenyataan juga. Dan hal ini bakal bikin kita berhati hati. Simpel kan? Dari pada memaki suatu keadaan yang kita anggap buruk, lebih baik kita selami dan sadar diri bahwa ada yang baik didalamnya. Seperti ketidakmungkinan yang berteman baik dengan kemungkinan setipis itu juga  kenyataan baik dan semangat keyakinan bersatu.

Think and Realiza, Ternyata kita sering murka terhadap proses ya? Dont do it anymore. Pesimistic is a crime.

P.s : note dr fesbuk, 22 Maret 2011

Dan ketika mendung itu tidak di anggap pekat..

Analogi analogi dan analogi.
Kata kata yg dianalogikan mengumpamakan sesuatu bisa menjelaskan ”sesuatu” . Seperti Ketika saya gak nemuin ikon tanda kutip di hp pas nulis note ini. Saya sdg mencoba menganalogikan sesuatu.
Saya kebingungan disini. Nyatanya, saya memang sedang bingung.
Dan ini masalah, tp kecil. Seringkali dalam keseharian, kita ditenggelamkan dalam keadaan ga enak oleh kenyataan. Dan sering kali kita pengen gigit silet saking parahnya kalo keadaan ga enak ngunci kita dalam kata BADMOOD. saya gak lg badmood kok, tp otak saya minta ditumpahin isinya *merengin kepala, ketokin kuping pake tangan. Feelin better? Ya gak lah, malahan puyeng @.@ . Sudahlah saya sudahi saja ceracau singkat dgn backsound suara hujan ini. Nikmati hujan nya..rasakan dingin nya. Tapi sensasi nya kurang enak, mendadak beseran.

Note : cuaca dingin menyebabkan beseran jadi sugestikan pikiran anda supaya tidur lebih lelap.

Sekian :p

 

P.s : ini catatan yang saya kutip dr fesbuk jaman ababil dulu. sekarang saya pensiun sudah dari jabatan sebagai ababil.

“KAM(SEU)PANYE”

06 Maret 2012.                                    

Parade menuju pilkada menjadi sorotan dalam minggu ini. Foto- foto pasangan kandidat yang digadang gadang menjadi pemimpin berserakan disepanjang jalan kota Banda Aceh. Perang slogan, Banjir souvenir, Gempita panggung juga bagian dari rangkaian kampanye. Kota banda aceh mendadak dipenuhi hawa janji surga dan dongeng indahnya masa depan ditengah teriknya cuaca.

“ Jika saya terpilih menjadi gubernur periode 2012 – 2017, maka saya dan wakil saya akan melakukan pembangunan pro rakyat” ( Janji salah satu calon kandidat). Kampanye memang masa paling dinanti bagi para kandidat. Di masa ini setiap kandidat diberi kesempatan untuk menunjukkan taringnya kepada rakyat.

Berdasarkan pendapat dari ahli komunikasi  Rogersda Storey, kampanye adalah : serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (Venus, 2004:7).

Segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi, yaitu mengajak dan mendorong public untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye pada prinsipnya adalah contoh tindakan persuasi secara nyata.

Dewasa ini, kampanye benar benar dimanfaatkan sebagai pesta menuju sebuah masa keemasan. Para calon pemimpin bahkan tidak segan mengeluarkan banyak dana untuk sekedar memasang baliho gambar wajah mereka di seputaran kota. Berbagai aksi digelar guna menyukseskan kampanye. Walhasil di hari kampanye, berbondong bondong pendukung mensukseskan acara sang pemilik hajat.

Tidak hanya itu, debat kandidat pun menjadi tontonan wajib di setiap rumah. Linimasa jejaring sosial menjadi saksi naluri kritisasi para pengamat kelakuan calon kandidat yang saling bertukar visi misi. Ternyata kita benar benar sedang berpesta dan larut dalam euphoria tersebut.

Di satu sisi, kampanye cukup menguntungkan banyak pihak. Bagaimana tidak, para pengisi acara, para pemilik percetakan, pemilik usaha keyboard, pemulung botol plastik bekas sampai penjual jajanan keliling ikut mendulang rupiah. Tidak perduli hujan ataupun terik menguasai.

Seakan peristiwa lima tahun lalu, ketika merasa pemimpin sekarang  tidak bekerja dengan baik dilupakan begitu saja. Seperti lupa bahwa 5 tahun lalu juga pernah memberi dukungan, pernah mengenakan kaos bergambar calon pemimpin dengan janji janji manis. Akankah kita kembali terpukau pesona dongeng nina-bobo kaum penguasa ?

9 April adalah masa dimana kita semua akan kembali mencoblos kertas penentu masa depan. Semoga saja tidak memilih karena diimingi tapi juga karena harus dipikirin. Janji itu adalah hutang sampai benar benar terealisasikan. Kepada kita calon pemilih, jangan menukar kaos partai dengan masa depan aceh. Kepada para pemimpin yang terpilih, jangan jadi kamseupay ( kampungan sekali payah) dengan janji yang sudah anda lontarkan.

 

Tugas Kuliah semasa di Muharram Journalist College.

SAYA “KETEMU” TUHAN HARI INI

“Ketika kamu mempercayai semua hal, maka sebenarnya kamu tidak pernah mempercayai apapun” –  Life Of Pi.

Hari ini, 10 Februari 2013. Tahun Baru Imlek,

Hai, selamat malam penduduk bumi Syariah. Hari ini adalah hari yang spesial bagi kaum Tionghoa dikota ini. Sepanjang jalan Peunayong, mayoritas chinesse tidak beraktifitas jualan pada hari ini. Saya melihat beberapa mereka berpakaian rapi, rambut anak kecil dikucir, sepertinya meriah perayaan tahun ini. Tadi sepulang Leader Cafe, saya dan beberapa teman mau pulang sebenarnya. Mengingat hari ini Imlek, kita pengen ke Tepekong buat ngeliat perayaan khas china tersebut. Kami markir motor didepan salah satu toko Vcd terlaris dikota ini dan jalan kaki. Pas nyampe didepan Tepekong yang saya lupa buat inget namanya(-_________- ), yang ada hanya dupa wangi yang udah dibakar tapi Tepekong tutup. Akhirnya kami naik becak bertiga (saya, nadia, mita) menuju sebuah gereja Katolik yang sudah cukup tua dikota ini. Menurut saya, adalah aneh kalau kita merasa takut untuk datang ke tempat rumah ibadah agama lain. Jujur, saya mengagumi gereja ini sudah cukup lama. Arsitekturnya berbeda dengan gereja atau rumah ibadah lain dikota ini. Bangunan tua tersebut bernilai historikal tinggi menurut saya. Tapi, tidak pernah sekalipun saya berani buat kesana untuk bertanya banyak tentang asal usul gereja sampai tadi sore. Saya dan teman teman galau saya (ampooon waaaaaakkk!), berhasil masuk ke pekarangan Gereja Katolik Hati Kudus. Berdiri megah didepan sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Banda Aceh, Gereja ini tetap khas. Didepannya ada beberapa tanaman rumahan seperti bunga kertas dan pohon pohon berukuran tidak terlalu besar. Seingat saya, dulu suatu pagi minggu, saya pernah mendengar lonceng berbunyi disana. Sampai dipekarangan, kami menyusuri ke dalam halaman. Rupanya, didalam pekarangan gereja ada sekolah Katolik dan dua bus sekolah. Gilak ya, 21 tahun saya tinggal dikota ini, saya baru tau kalo ada sekolah didalam pekarangannya. Seandainya ada suster atau penjaga gereja yang nongol, saya dan cs uda minta izin masuk kedalam. Seni yang ditampilkan dari rumah ibadah yang satu ini kental banget. Saya ngerasa kayak di zaman Belanda. Warna cokelat dipadu krem seakan menguatkan kalau bangunan ini memang keren banget.

Image

Image

Selesai muter muter di Gereja, temen saya si Nadia, pengen banget ke kuil. As we know, hidup di daerah syariah itu gak semudah kayak ngunyah kerupuk. Di lingkungan saya misalnya, dulu bergaul terlalu dekat dengan orang berbeda agama masih agak tabu. Argumen masih menggebu diantara yang “biasa aja” dengan yang ”gak biasa banget”. Tapi, saya sih cuek. Kalo rambut kita bisa beda warna, gak ada masalah dong kalo Tuhan kita beda. Intinya kita tetap punya Tuhan. As simple as that. Lanjut, naik becak ke Keudah. Kami pergi ke sebuah Kuil Hindu yang udah ada sejak zaman sebelum merdeka.

Image

Ini super banget menurut saya. Ada sebuah Kuil dikota syariah. Majemuk banget kan kota ini? Dan kampung ini bener bener bisa menghargai kemajemukan tersebut. Masuk kedalam kuil itu, kami ditemani pemuka agama Hindu di Kuil tersebut. Sewaktu masuk, mata itu rasanya udah kayak nari nari liat ornamen di dinding.

Image

Aroma dupa yang khas banget wanginya dan suara lagu sembahnyang Hindu menjadi diorama yang bisa saya bangun dikepala saya.  Jadi, ini merupakan Kuil Dewa Murugan. Nama Kuil ini adalah Kuil Palani Andawer. Dewa Murugan sendiri adalah Dewa kebersihan. Jadi disini gak bakal ada yang namanya bau amis atau bau gak enak. Serba bersih, gitu kata gurgel nya (red : pendeta). Ditembok itu ada seperti cerita perjalanan Dewa Murgan ini. Mulai dari kecil sampai beliau dewasa. Untuk peralatan sembahyang, mereka punya Alka. Diatas Alka yang berbentuk sperti meja kecil, ada beberapa sajian untuk Dewa Ganesha dan sebuah arca burung Camar di alka yang lain. Untuk waktu sembahyang, ada sebuah arca Dewa Murgan berukuran sedang yang mana arca tersebut hanya dibuka tirainya diwaktu pelaksanaan ibadah yang ditandai dengan bunyi lonceng 9x.

Image

Selain itu, saya tertarik pada ornamen Nandi yang ternyata punya tempat istimewa bagi kaum Hindu. Selama ini kan orang mikir kalo Sapi adalah Tuhan orang Hindu, sebenarnya itu keliru. Sapi atau yang disebut Nandi adalah hewan yang sangat berjasa. Bayangkan, kita semua rata rata minum susu sapi kan? Secara gak langsung, Nandi juga ikut “menghidupi” kita manusia. Maka dari itu, kaum Hindu sangat menghormati Nandi.

Image

Bener bener hari yang super sekali buat saya dan teman teman saya. Menurut saya, wilayah Peunayong beneran “Bhinneka Tunggal Ika” banget deh. Bisa hidup damai dan tenteram dalam kemajemukan adalah nilai paling jagoan deh dikota ini. Karena dikota ini, mayoritas adalah Islam dan mungkin agak strict ya kalo urusan “Tuhan”. Mengingat hal ini, saya tadi sepanjang jalan keingat suatu hal yang pernah saya rasain dimasa kecil.

Saya mau ngajak flashback dulu ke belakang deh. Dulu, waktu saya masih kecil, saya memang udah muslim dari lahir. Tapi, saya kayak masih punya pertanyaan seputar “kemusliman” saya. Bukan saya meragukan Tuhan, tapi saya mikir kenapa agama kita berbeda beda dikasih ama Tuhan. Sekitar umur 5 tahunan, saya menyukai lagu lagu gospel, saya senang lihat kutbah minggu di tipi sampai orangtua saya melarang. Mungkin ini yang salah, saya dilarang bukan dijelaskan, jadi saya tetap mencari tau.

Kebetulan, dulu tetangga depan rumah saya muallaf akan tetapi ibunya masih beragama kristen. Saya masih sering melihat beliau membeli pernak pernik Natal. Ternyata, saya hanya senang tapi pertanyaan saya tentang Agama tidak terjawab. Yang namanya anak kecil, rada ekstrem kali ya buat nyari tau sesuatu. Sekitar SD kelas 4, saya mulai tertarik ke agama Budha. Yang saya ingat banget, saya “nyembah” vas bunga nenek saya, dan dupa yang digunakan saya ganti dengan lidi. Saya nyembah seperti orang Budha sembahyang. Dan lagi lagi, pertanyaan saya tidak terjawab. Saya pada saat itu penasaran, kenapa Tuhan saya hanya hidup dalam doa. Saya gak tahu gimana bentuknya. Otak saya selalu berimajinasi, seperti apa bentuk Tuhan Saya. Sampai Tuhan takdirin saya untuk masuk pesantren. Disini, saya menemukan identitas saya sebagai muslim dengan alasan alasan yang kuat. Saya tidak meragukan mana yang benar ataupun mana yang salah. Menurut saya, hati adalah kompas terbaik untuk menemukan jalan “Tuhan”.

Mungkin waktu saya kecil, ayat kitab suci bagi saya hanya sebatas hafalan agar cepat diizinkan pulang cepat sewaktu belajar mengaji ataupun agar nilai bagus ada di raport saya. Lambat tapi pasti, seiring menuanya umur saya, saya semakin menemukan bahwasaya, apa yang sudah ada didiri saya memang harus begini dan saya mensyukurinya.

Setiap orang telah dibekali kemampuan untuk memilih sejak ruhnya ditiupkan. Maka, apapun yang dipilih ketika manusia menjadi hidup, itu adalah kehidupan yang dia bangun. Bahkan untuk memilih Tuhan. Walaupun Tuhan kita berbeda beda, tapi kita semua adalah benar adanya diciptakan oleh Tuhan dan tidak perlu menuhankan diri untuk menempati posisi istimewa didunia. Istimewa hanya milik yang maha Kuasa, dan kita adalah ciptaan yang haru selalu menjalani apa yang dititpkan secara damai dan bersama sama. Apa sih artinya selalu memperdebatkan siapa yang benar di mata Tuhan kalo Tuhan sendiri sebenarnya selalu punya kebijakan sendiri?

Anyway, saya muslim. Dan ini masjid paling bersejarah dikota saya :

Image

Image

Image

Mesjid ini sejarahnya juga gak kalah keren. Dulu, Jendral Kohler meninggalnya disini karena tertembak oleh para sniper Aceh (keren amat ya sniper bahasanya :p) . Waktu Tsunami, Mesjid ini gak kenapa kenapa, dan air sama sekali gak masuk kedalam area mesjid. Maha Besar Allah Atas Segala Kuasa-Nya. Jadi, jangan ngaku pernah ke Banda Aceh kalau belum pernah ke Masjid Raya Baiturrahman. Ini liat ini, saya udah foto di tempat ini sejak kecil :p

Image

saya baru tau kalau ternyata kota ini punya banyak tempat yang bisa jadi tempat wisata. kayaknya saya harus capek kalau selalu disodorkan bentuk wisata yang berkaitan dengan Tsunami. Wake up, dude! Banda Aceh punya banyaaaaaaak sekali tempat yang berpotensi wisata. selama ini, cukup perhatian kah dengan kota ini? jangan-jangan baru tau kalo di kota ini juga banyak tempat ibadah? ini menunjukkan bahwa Aceh sangat menghargai perbedaan bahkan untuk hal yang prinsipil sekalipun. Apapun yang kamu yakini saat ini, pilihlah satu, dan itu akan selalu menjadi satu-satunya sampai kamu tidak terbangun lagi.

See! Walaupun kita berbeda “Tuhan”, tapi kita semua punya Tuhan yang hebat kan? ^_^

DREAMMAKER : TENTUKAN PILIHAN MU, WAHAI ANAK MUDA!

Image

“Generasi muda  itu selalu punya pilihan, mau jadi Ayam Broiler atau Ayam Kampung?”.

 

Apa yang terbayang jika mendengar kata “Pemuda”? Segar, aktif, berani, selalu ingin tahu, selalu ingin melakukan sesuatu, dan sederetan panjang alasan alasan mengapa harus bangga menjadi pemuda.  Sudahkah kamu bangga selama menjadi seorang pemuda atau pemudi?

Seringkali pertanyaan ini susah dijawab atau malah terlalu enteng untuk dijawab. “aku bangga banget jadi pemuda yang bergadget paling mutakhir abad ini dan bisa menenteng tas Furla paling mahal saat ini” atau “aku bangga jadi pemuda yang biasa-biasa saja dengan harapan yang sedang sedang saja jadi hidup kami aman aman saja”.

Entah zaman yang sudah terlalu barbar untuk mencekoki  naluri konsumtif  dan pasrah ke tiap bibit bibit muda atau mungkin Alien pernah tidak sengaja mampir dan menyelipkan chip ke tiap apa yang kita makan agar selalu lapar akan barang-barang mahal dan lupa untuk berkembang. Entahlah .

Saya pernah berfikir,  ini seperti kematian era pemuda berani dan bebas bergerak sampai saya ada di acara Dream Maker dan bertemu pemuda pemuda yang mungkin lupa diracuni oleh Alien. Dream Maker sendiri adalah acara yang digelar di  Aula BKKBN, Banda Aceh  pada tanggal 16-17 Maret 2013. Para pemuda yang lulus seleksi berasal dari 8 daerah di Aceh mendapat kesempatan belajar banyak hal disini. Mulai dari belajar mensyukuri apa yang dimiliki dan jangan pernah menyerah dengan hidup lewat River Of Life. Lalu bagaimana merealisasikan project dalam Project Management,  dimana apa yang ingin dikerjakan dalam hidup jangan hanya berakhir dalam pikiran atau kertas coret moret,  tapi itu semua harus menjadi nyata.  Selain itu, sebagai anak muda yang hidup di era “Trust Google makes you cool” , cara menggunakan social media dengan baik juga dibagikan di Using Social Media for Social Good. Di Using social media for social good, kita jadi tahu etika dalam berkehidupan di dunia maya. Dan sebenarnya banyak orang yang menjadi jutawan Cuma gara gara main twitter, setiap update-an nya dikumpulin jadi buku, terus menghasilkan duit deh.

Yang jadi klimaks paling top di acara Dream Maker ini adalah pelatihan menulis.  Banyak yang bilang menulis itu susah, dan ternyata tidak. Sebenarnya sugesti kepala kita saja yang bilang kalau menulis itu susah, padahal kalau dikerjakan dan berani buat mulai menulis, mungkin apa yang kamu tulis bisa lebih tebal daripada kamus bahasa Indonesia. Disini para peserta tidak hanya dimotivasi agar mau menulis, tapi juga diberi kesempatan agar berkembang lewat tulisannya. Bagaimana caranya? Berani kirim tulisan ke koran atau majalah, dengan begitu karakter tulisan terbentuk dan bonusnya duit jajan nambah.

 

Ketika saya melihat banyak orang muda bersemangat dan percaya dengan mimpi mereka bahkan dalam keadaan tersulit sekalipun, itu benar benar tamparan terkuat. Bayangkan, selama ini kalau gagal sedikit,  terus kita malas buat bangun lagi dan memilih hidup dalam trauma berkepanjangan. Dan itu buruk sekali.  Seorang teman pernah mengatakan pada saya, “ikuti filosofi bambu cina, dimana bambu itu akan menguatkan kakinya selama bertahun tahun lalu menujulang tinggi lagi kokoh”.

 

Masih berfikir untuk menyerah dalam kepasrahan?

Ibaratkan saja kamu adalah  Ayam.  Ayam diciptakan Tuhan untuk akhirnya berakhir di penggorengan atau kuali ibu dirumah tapi beberapa dari  mereka tidak pasrah dalam menjalani hidup. Lihat saja  ayam kampung  yang tidak pernah diam. Mereka tetap menjadi ayam lincah yang selalu aktif dan pergi kemana pun mereka suka, menemukan hal – hal baru dalam dunia ini, walaupun ayam ayam itu tahu akan menjadi pelengkap lauk pada akhirnya. Berbeda dengan Ayam Broiler, mereka ayam ayam “manis” dengan sikap penurut. Mereka pasrah pada takdirnya dan memilih berkotek merdu dalam kandang dan tidak mau tahu dengan dunia karena yang mereka tahu,  suatu saat juga akan disembelih.

Nah, sekarang pilihan ada di kamu para generasi muda, mau jadi Ayam kampung atau Ayam Broiler? Semoga menjadi pilihan yang tepat J

 

 

 

Orang Utan Tanpa Hutan

Image

 

“Indonesia itu zamrud khatulistiwa. Kenapa demikian? Karena tanah subur dan hutannya luas. Banyak sekali satwa di hutan kita” ujar guru SD saya, belasan tahun silam.

Begitu kira–kira penggambaran kebanggaan para Guru SD (sekolah dasar) dimasa lalu menceritakan indahnya Indonesia. Dan para murid selalu percaya akan hal tersebut dan berharap agar suatu saat nanti mereka bisa menceritakan ulang kepada generasi penerusnya. Indonesia juga merupakan negara kepulauan yang memiliki 10.000 lebih  yang juga diperkaya dengan kekayaan budaya serta keberagaman suku bangsa.  Sebagai negara dengan julukan Zamrud Khatulistiwa, Indonesia memiliki kondisi tanah yang cukup  subur, hutan yang sangat luas serta beragam hewan yang mungkin tidak ditemui di daerah atau negara lain, ada di dalam hutan Indonesia. Bahkan sebuah penggalan lirik lagu dari sebuah band legendaris, KoesPlus turut mengamini keadaan tersebut :

….Orang bilang tanah kita tanah surga

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

 

Akan tetapi, hal tersebut kini berbanding terbalik 180 derajat. Indonesia tak lagi rupawan seperti dahulu. Hutan sebagai mahkota yang paling dibanggakan mulai dipertanyakan kelangsungan keberadaannya. Kondisi hutan Indonesia saat ini memasuki fase kesuraman. Berdasarkan RakyatMerdekaOnline (24 nov 2012), “sekitar 41 juta hektar menjadi gundul dan akibat pembalakan liar negara ditaksir mengalami kerugian triliunan rupiah”. Hal ini juga semakin buruk dengan ditemukannya fakta bahwa salah satu kawasan hutan di Aceh yakni Rawa Tripa yang termasuk wilayah hutan lindung digunakan sebagai lahan kepala sawit oleh 4 perusahaan sekaligus. Kasus ini mengundang sejumlah pihak membuat petisi online bertajuk : “ Gubernur Zaini, tepati janji, tegakkan hukum. Hentikan semua kegiatan berbasis lahan di Rawa Tripa dan cabut izin perusahaan yang membakar Rawa Tripa”.

Hutan merupakan kerajaan sekaligus rumah paling nyaman bagi para hewan. Sejumlah hewan langka tersebar di seluruh hutan di Indonesia. Seiring dengan memburuknya kondisi hutan Indonesia, kenyataan ini disayangkan sekali karena berbanding lurus dengan kondisi satwa didalamnya. Salah satu hewan yang menjadi ciri khas Indonesia adalah Orang Utan. Orang Utan adalah satu-satunya Kera besar yang hidup di hutan tropika Indonesia khususnya di Kalimantan dan Sumatera.

Orang Utan Sumatera (Pongo Abelli) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatera. Keberadaan mamalia ini dilindungi Undang Undang tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Mamalia ini juga terdapat dikawasan Rawa Tripa yang merupakan satu dari enam tempat yang merupakan tempat tinggal mereka. Rawa tripa sendiri berada di kawasan Aceh barat.

Saat ini kondisi Orang Utan khususnya di Rawa Tripa semakin terancam. Semenjak kawasan ini mulai dijamah tangan para “monster” penanam sawit, populasi Orang Utan semakin menurun. Diperkirakan oleh Sumateran Orang Utan Conservation Program (SOCP), terdapat 100 Orang Utan mati dalam pembakaran lahan gambut. Dan sampai saat ini,  hanya tinggal 200 Orang Utan padahal pada era 1990an ada sekitar 3.000 ekor Orang Utan.

Pembukaan hutan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Sampai saat ini, tidak hanya rekonstruksi terhadap kawasan hutan saja yang sedang diupayakan. Populasi Orang Utan yang hidup di kawasan hutan gambut Rawa Tripa diperkirakan akan punah pada pertengahan 2013 jika kerusakan lahan gambut tidak ditanggulangi, berikut menurut RepublikaOnline, 31 Maret 2013.

Pemerintah Aceh dinilai lamban dalam menangani kasus yang berbau lingkungan. Rawa Tripa merupakan tamparan keras yang menunjukkan “kebobolan” pemantauan terkait pelestarian hutan di Aceh. Dan saat ini nasib Rawa Tripa seakan masih terkatung- katung. Apakah kita perlu pingsan lebih lama lagi untuk menyadari kesalahan sebesar ini? Lalu bagaimana dengan nasib Orang Utan di Aceh?

Dulu kita mungkin masih bisa menjadikan Orang Utan di selembaran Uang Rp.500, sebagai jokes untuk tertawa bersama-sama. Dan mungkin , Orang Utan yang tersenyum tersebut juga tidak marah untuk diajak berbahagia bersama. Siapa yang menyangka hari ini, senyuman mereka tidak terkembang seperti dulu. Mereka semakin didesak kehidupannya oleh ketamakan manusia dan berlari untuk menghindari buldozer buldozer besar yang siap melindas populasi salah satu dari 25 primata yang terancam punah didunia ini.

Bukan hanya itu saja, seringkali Orang Utan yang disita dari rumah warga tidak dalam keadaan baik. Beberapa waktu lalu, seekor Orang Utan ditemukan di rumah warga di Desa Simpang Gading, Aceh Barat, dalam keadaan bulu kepala mengalami kerontokan dan tubuh melemah. Primata tersebut pun dikirim ke karantina satwa di Sibolangit (analisa.com). Di lain kasus, baru baru ini 2 ekor Orang Utan ditemukan dalam keadaan kepanasan karena berada dalam kandang beratapkan seng di tempat terpisah (acehkita.com).

Jika kita tidak menjaga hutan seperti pesan nenek moyang yang sering kita baca di buku kala duduk dibangku sekolah dulu, maka kita tidak perlu membanggakan diri lagi sebagai negara Zamrud Khatulistiwa. Dan, lupakan saja sejarah jika Orang Utan pernah menjadi kebanggaan di Bumi pertiwi ini. Mungkin, hanya dalam selembaran 500 rupiah di tahun 1990an  saja mereka benar benar bisa tersenyum abadi dan bahagia.