Bukan untuk di caci !

Ketidakmungkinan adalah teman dari kemungkinan. Mereka sangat akrab sampai manusia menganggap hanya ketidakmungkinan yang lebih dominan daripada kemungkinan. Mungkin karena itu juga mereka tetanggaan dengan pesimistis dan optimistis. Yang jelas, kita dan mereka semua seperti koin, bertolak belakang tapi selalu mengiringi. Dan saya mengalami kepesimisan di hari minggu sampai saya menganggap “saya tidak punya hari minggu” pekan kemarin. Seharian penuh saya mengikuti pelatihan untuk proses skripsi saya. Dari semua materi, awalnya saya menganggap, sumpah ini payah sekali. Saya membayangkan banyak istilah dan sistem yang harus saya kuasai guna mendukung proses itu. Kala itu saya gelagapan jadinya. Seharian penuh juga saya berhasrat ingin cabut dari kelas. Yah, berbagai turunan syaitonirrajim membisikkan godaan di kuping saya. Yang saya inginkan saat itu hanya satu , pulang !

Mungkin ada banyak orang yang seperti saya. Malas mendekam di suatu keadaan yang dianggap membosankan padahal itu penting. Sama halnya dengan ketika kita harus menjalani proses. Iya, sebuah proses. Tidak semua orang bertahan ataupun bahkan punya keinginan untuk menjalani proses. Karena secara mata telanjang dan pemikiran , kita Cuma mikir “iya benar, proses gak enak. Adakah yang instan?”

Kita ambil contoh kecil yang mungkin sering kita lakukan sebagai seorang pengguna jalan. Jalanan banda aceh sering dibuat ribet kali ini dengan potongan atau belokan jalan yang lebih jauh dari tujuan dan mengharuskan si pengendara agar memutar dulu kendaraan dan itu memakan waktu. Tapi sebagian besar orang selalu mnggunakan sebuah shortcut, ya memutuskan berjalan di jalur yang berlawanan arah. Mungkin memang nyawa sekarang lebih murah daripada waktu. Kan waktu adalah emas, dan emas adalah logam mulia paling mahal, hehehe.

Secara gak langsung, kita men- skip proses kan? Kita men- skip proses untuk muter jalan dengan alur yang baik dan lebih milih jalan dari jalur berlawanan. Padahal jelas resikonya berjudul : bahaya.  Memang dalam hidup, ada pilihan untuk melawan arus atau mati dalam arus yang sudah ditentukan. Tapi gak ada kan pilihan buat minum racun terus nari nari karena mati dengan hal instan yang kita buat. Kalopun itu jadi pilihan, saya rasa itu pilihan paling buruk.

“Lebih baik kamu kalah karena memang kamu kalah dari pada kamu kalah karena yasudahlah” , Artinya tipe “kalah yasudahlah” adalah kamu tidak berusaha sebelum kalah dalam artian pasrah sebelum berperang.kalah karena memang kalah artinya kamu sudah sangat amat berusaha, tapi memang apa yang kamu harap bukan jadi milikmu, dan ini jelas punya proses.

Tapi dibalik semua itu, kemarin teman  saya membuktikan pada saya kekuatan percaya diri dan proses (bye bye pesimis, kita putus). Dia mendapat sebuah project di hari minggu dimana seluruh anak buah nya libur. Dia duduk di depan laptopnya, mencari apa yang harus dia cari dengan keyakinan penuh. Penuh sekali. Saya hanya gak membayangkan musti ada di posisinya. Dia melakukan proses dengan baik dan alhamdulillah, apa yang dia inginkan tercapai. Padahal memang kalau dipikir secara logika, gak mungkin menyusuun preparation serumit itu dalam waktu sesingkat itu. Dan seringkali kita sebagai manusia lebih sering berpikir dan membayangkan dan (buruknya) menanamkan pada susunan syaraf otak bahwa ini tidak mungkin, iya itu adalah kemungkinan yang sering di lakukan. Tapi teman saya dengan keyakinan, dia bisa melewati proses itu. Harapan jadi nyata dalam tangannya. Dan dari hari itu, saya seperti dipaparkan sebuah kenyataan bahwa “Heeyy, keyakinan itu hidup. Dia bukan sekedar sugesti positif”.  Hal ini terus saya ingat sampai di pagi senin saya olahraga pagi, mungkin semangat yang membuat saya pagi itu melihat langit terasa beda dan memang dengan sesuatu yang beda, kepercayaan diri dan keyakinan saya mulai beda. Saya mulai percaya 100% “ dalam ketidakmungkinan ada kemungkinan”.

Setidaknya apa yang teman saya lakukan bisa menjadi suatu pencarahan buat saya. Dan sejak hari itu, saya rasa saya harus mencabut sugesti bosan dalam diri saya saat mengikuti kuliah umum saya. Toh ini proses yang akan mempermudah saya. Saya hanya harus bertahan di beberapa step lagi : micro – ppl – kpm- wisuda. Saya butuh semangat. Dan sekitar saya adalah semangat yang senantiasa bisa mendorong saya agar lebih bekerja keras untuk itu.

Terima kasih Tuhan untuk badmood saya di hari minggu, mungkin kalo saya ga badmood saya gak bakal menyadari ada cahaya dalam proses ini. Terkadang ketika kamu ketusuk paku, kamu gak perlu memaki paku dan merasa diri bodoh karena ga liat itu paku kecil, tapi musti bersyukur sudah menjalani proses kenak paku dan sakit kaki karena ini bakal buat kita agar tidak tidak teledor lagi dan tahu rupanya kenak paku sakit ya, ga Cuma dalam bayangan fikiran tapi kenyataan juga. Dan hal ini bakal bikin kita berhati hati. Simpel kan? Dari pada memaki suatu keadaan yang kita anggap buruk, lebih baik kita selami dan sadar diri bahwa ada yang baik didalamnya. Seperti ketidakmungkinan yang berteman baik dengan kemungkinan setipis itu juga  kenyataan baik dan semangat keyakinan bersatu.

Think and Realiza, Ternyata kita sering murka terhadap proses ya? Dont do it anymore. Pesimistic is a crime.

P.s : note dr fesbuk, 22 Maret 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s