“KAM(SEU)PANYE”

06 Maret 2012.                                    

Parade menuju pilkada menjadi sorotan dalam minggu ini. Foto- foto pasangan kandidat yang digadang gadang menjadi pemimpin berserakan disepanjang jalan kota Banda Aceh. Perang slogan, Banjir souvenir, Gempita panggung juga bagian dari rangkaian kampanye. Kota banda aceh mendadak dipenuhi hawa janji surga dan dongeng indahnya masa depan ditengah teriknya cuaca.

“ Jika saya terpilih menjadi gubernur periode 2012 – 2017, maka saya dan wakil saya akan melakukan pembangunan pro rakyat” ( Janji salah satu calon kandidat). Kampanye memang masa paling dinanti bagi para kandidat. Di masa ini setiap kandidat diberi kesempatan untuk menunjukkan taringnya kepada rakyat.

Berdasarkan pendapat dari ahli komunikasi  Rogersda Storey, kampanye adalah : serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (Venus, 2004:7).

Segala tindakan dalam kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi, yaitu mengajak dan mendorong public untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Dengan demikian kampanye pada prinsipnya adalah contoh tindakan persuasi secara nyata.

Dewasa ini, kampanye benar benar dimanfaatkan sebagai pesta menuju sebuah masa keemasan. Para calon pemimpin bahkan tidak segan mengeluarkan banyak dana untuk sekedar memasang baliho gambar wajah mereka di seputaran kota. Berbagai aksi digelar guna menyukseskan kampanye. Walhasil di hari kampanye, berbondong bondong pendukung mensukseskan acara sang pemilik hajat.

Tidak hanya itu, debat kandidat pun menjadi tontonan wajib di setiap rumah. Linimasa jejaring sosial menjadi saksi naluri kritisasi para pengamat kelakuan calon kandidat yang saling bertukar visi misi. Ternyata kita benar benar sedang berpesta dan larut dalam euphoria tersebut.

Di satu sisi, kampanye cukup menguntungkan banyak pihak. Bagaimana tidak, para pengisi acara, para pemilik percetakan, pemilik usaha keyboard, pemulung botol plastik bekas sampai penjual jajanan keliling ikut mendulang rupiah. Tidak perduli hujan ataupun terik menguasai.

Seakan peristiwa lima tahun lalu, ketika merasa pemimpin sekarang  tidak bekerja dengan baik dilupakan begitu saja. Seperti lupa bahwa 5 tahun lalu juga pernah memberi dukungan, pernah mengenakan kaos bergambar calon pemimpin dengan janji janji manis. Akankah kita kembali terpukau pesona dongeng nina-bobo kaum penguasa ?

9 April adalah masa dimana kita semua akan kembali mencoblos kertas penentu masa depan. Semoga saja tidak memilih karena diimingi tapi juga karena harus dipikirin. Janji itu adalah hutang sampai benar benar terealisasikan. Kepada kita calon pemilih, jangan menukar kaos partai dengan masa depan aceh. Kepada para pemimpin yang terpilih, jangan jadi kamseupay ( kampungan sekali payah) dengan janji yang sudah anda lontarkan.

 

Tugas Kuliah semasa di Muharram Journalist College.

Advertisements

2 thoughts on ““KAM(SEU)PANYE”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s