Kartini yang tak harum kisahnya

 

Kemarin, tepatnya 21 April adalah hari dimana para bocah kecil, laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian adat lalu pawai dijalanan. Biasanya, anak laki – laki akan memakai pakaian tentara atau polisi dengan bangganya ataupun perempuan memakai kebaya juga pakaian adat wanita dari berbagai daerah. Semuanya seakan akan bersuka cita, melupakan terik matahari, lupa bahwa tadi pagi terburu buru untuk mengantar ke salon, semua kegabukan terlupakan ketika para peserta pawai memasuki jalanan. Mereka terlihat lucu dan gagah.

Euphoria Kartini memang tidak hanya dirasakan para anak kecil tersebut. Di kehidupan dunia maya, hampir semua mengucapkan selamat bagi perempuan yang terkenal lewat surat suratnya tersebut. Ulasan mengenai surat surat yang dikimkan perempuan bangsawan Jepara ini bertebaran di linimasa. Kartini sangat tegar “berdiri” diantara gempuran berita seputar gadis SMA yang diperkosa lalu dibakar ataupun penculikan seorang Guru Paud di Aceh yang tak kunjung ditemukan.

Masalah pendidikan dan kebebasan memang menjadi pertanyaan besar bagi Kartini di tahun 1900-an. Mengapa perempuan tidak bisa mengenyam pendidikan seperti halnya kaum lelaki? Mengapa untuk berjalan pun perempuan diatur sedangkan laki laki tidak? Kartini lalu menuliskan surat kepada teman temannya dan saat ini angin sejuk atas harapan harapannya terjawab. Perempuan bisa mengenyam bangku pendidikan, perempuan bebas berpidato diatas podium dan menjadi menteri, perempuan bisa memperbaiki sanggulnya bahkan sambil berlari tanpa ada yang mencaci. Perempuan mendapatkan “singgasana” dimata dunia.

 

Nyatanya, singgasana tersebut terkadang ditukar sendiri oleh perempuan dengan rela dimadu oleh pejabat negara, menjadi korban KDRT baik didalam keluarga maupun hubungan berpacaran ataupun pasrah menjadi perempuan yang tidak bisa mengubah nasibnya sendiri. Menjadi rela kalah telak oleh keadaan yang sebenarnya bisa diperbaiki. Lalu kembali berteriak keras “kami perempuan lemah, lindungi kami!”. Perempuan entah dikutuk atau kenapa, kadang mencari aman dengan menganggap bahwa mereka selalu lemah tak berdaya.

Mungkin hanya segelintir yang demikian, tapi lebih dari itu banyak perempuan yang harus meregang nyawa ataupun berjuang sangat keras demi melawan kerasnya dunia yang tak hanya mempertanyakan soal pendidikan dan kebebasan saja. Cut Nyak Dhien dengan gagahnya menunggangi Kuda memimpin prajurit perang dalam mempertahankan Aceh. Ratu Safiatuddin “menampar” persepsi umum bahwa perempuan tak becus memerintah suatu wilayah. Laksamana Malahayati mungkin adalah satu-satunya pejuang wanita yang membuat saya percaya bahwa nenek moyang kita adalah pelaut, karena beliau mampu mengendalikan armada tentara Laut dengan gagah berani.

Kemerdekaan sudah ditangan, begitu menurut buku Sejarah Indonesia. Kita merdeka di tahun 1945 dengan diproklamirkan oleh Bung Karno dan Hatta. Merdeka dan diakui kedaulatan negara oleh dunia memang sudah menjadi takdir Indonesia. Tapi entah kenapa sampai saat ini Indonesia belum bisa memerdekakan dirinya sendiri khususnya kaum perempuan. Rasa aman menjadi amat mahal harganya bagi wanita. Layaknya rakyat merdeka, harusnya tidak ada lagi perempuan yang harus banting tulang bekerja dipertambangan, menjadi TKW di negeri orang lalu ketika mati tak pernah dipertanyakan ataupun menjadi pemuas nafsu di emperan jalan berdiri dengan dandanan menor demi asap dapur mengepul dan sederetan kisah kelam Kartini masa kini.

 

Sebenarnya luka kelam Kartini terlalu langgeng dipertahankan oleh zaman. Seakan tak pernah selesai seperti ensiklopedia berisi penjagalan dan pelecehan seksual tanpa nomor seri. Dimulai sejak masa Konflik dibeberapa daerah seperti Aceh, Poso, dll, terlalu banyak “Kartini” yang harus terobek kebaya nya oleh para manusia manusia bejat, Marsinah yang merupakan “Kartini” para buruh yang masih dipertanyakan mengapa ia dibunuh dengan cara sangat kejam dan pelaku sampai saat ini masih tertawa terbahak bahak. Terlalu banyak bagian hitam dalam sejarah perempuan di Indonesia. Habislah Gelap Terbitlah Terang seperti hanya enak didengar sebagai judul buku paling laris sepanjang zaman. Atau jangan-jangan,  sebenarnya ada yang mematikan sang terang ketika hampir terbit?

“Ibu kita Kartini

Putri sejati

Putri Indonesia

Harum namanya”

 

 

 

 

 

*Teruntuk para Kartini yang sedang berjuang dalam kegelapan, yang mati tapi tak dipertanyakan,ataupun luput dari keadilan. Nyalakan terang kalian!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s