Orang Utan Tanpa Hutan

Image

 

“Indonesia itu zamrud khatulistiwa. Kenapa demikian? Karena tanah subur dan hutannya luas. Banyak sekali satwa di hutan kita” ujar guru SD saya, belasan tahun silam.

Begitu kira–kira penggambaran kebanggaan para Guru SD (sekolah dasar) dimasa lalu menceritakan indahnya Indonesia. Dan para murid selalu percaya akan hal tersebut dan berharap agar suatu saat nanti mereka bisa menceritakan ulang kepada generasi penerusnya. Indonesia juga merupakan negara kepulauan yang memiliki 10.000 lebih  yang juga diperkaya dengan kekayaan budaya serta keberagaman suku bangsa.  Sebagai negara dengan julukan Zamrud Khatulistiwa, Indonesia memiliki kondisi tanah yang cukup  subur, hutan yang sangat luas serta beragam hewan yang mungkin tidak ditemui di daerah atau negara lain, ada di dalam hutan Indonesia. Bahkan sebuah penggalan lirik lagu dari sebuah band legendaris, KoesPlus turut mengamini keadaan tersebut :

….Orang bilang tanah kita tanah surga

tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

 

Akan tetapi, hal tersebut kini berbanding terbalik 180 derajat. Indonesia tak lagi rupawan seperti dahulu. Hutan sebagai mahkota yang paling dibanggakan mulai dipertanyakan kelangsungan keberadaannya. Kondisi hutan Indonesia saat ini memasuki fase kesuraman. Berdasarkan RakyatMerdekaOnline (24 nov 2012), “sekitar 41 juta hektar menjadi gundul dan akibat pembalakan liar negara ditaksir mengalami kerugian triliunan rupiah”. Hal ini juga semakin buruk dengan ditemukannya fakta bahwa salah satu kawasan hutan di Aceh yakni Rawa Tripa yang termasuk wilayah hutan lindung digunakan sebagai lahan kepala sawit oleh 4 perusahaan sekaligus. Kasus ini mengundang sejumlah pihak membuat petisi online bertajuk : “ Gubernur Zaini, tepati janji, tegakkan hukum. Hentikan semua kegiatan berbasis lahan di Rawa Tripa dan cabut izin perusahaan yang membakar Rawa Tripa”.

Hutan merupakan kerajaan sekaligus rumah paling nyaman bagi para hewan. Sejumlah hewan langka tersebar di seluruh hutan di Indonesia. Seiring dengan memburuknya kondisi hutan Indonesia, kenyataan ini disayangkan sekali karena berbanding lurus dengan kondisi satwa didalamnya. Salah satu hewan yang menjadi ciri khas Indonesia adalah Orang Utan. Orang Utan adalah satu-satunya Kera besar yang hidup di hutan tropika Indonesia khususnya di Kalimantan dan Sumatera.

Orang Utan Sumatera (Pongo Abelli) merupakan salah satu hewan endemis yang hanya ada di Sumatera. Keberadaan mamalia ini dilindungi Undang Undang tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta digolongkan sebagai Critically Endangered oleh IUCN. Mamalia ini juga terdapat dikawasan Rawa Tripa yang merupakan satu dari enam tempat yang merupakan tempat tinggal mereka. Rawa tripa sendiri berada di kawasan Aceh barat.

Saat ini kondisi Orang Utan khususnya di Rawa Tripa semakin terancam. Semenjak kawasan ini mulai dijamah tangan para “monster” penanam sawit, populasi Orang Utan semakin menurun. Diperkirakan oleh Sumateran Orang Utan Conservation Program (SOCP), terdapat 100 Orang Utan mati dalam pembakaran lahan gambut. Dan sampai saat ini,  hanya tinggal 200 Orang Utan padahal pada era 1990an ada sekitar 3.000 ekor Orang Utan.

Pembukaan hutan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Sampai saat ini, tidak hanya rekonstruksi terhadap kawasan hutan saja yang sedang diupayakan. Populasi Orang Utan yang hidup di kawasan hutan gambut Rawa Tripa diperkirakan akan punah pada pertengahan 2013 jika kerusakan lahan gambut tidak ditanggulangi, berikut menurut RepublikaOnline, 31 Maret 2013.

Pemerintah Aceh dinilai lamban dalam menangani kasus yang berbau lingkungan. Rawa Tripa merupakan tamparan keras yang menunjukkan “kebobolan” pemantauan terkait pelestarian hutan di Aceh. Dan saat ini nasib Rawa Tripa seakan masih terkatung- katung. Apakah kita perlu pingsan lebih lama lagi untuk menyadari kesalahan sebesar ini? Lalu bagaimana dengan nasib Orang Utan di Aceh?

Dulu kita mungkin masih bisa menjadikan Orang Utan di selembaran Uang Rp.500, sebagai jokes untuk tertawa bersama-sama. Dan mungkin , Orang Utan yang tersenyum tersebut juga tidak marah untuk diajak berbahagia bersama. Siapa yang menyangka hari ini, senyuman mereka tidak terkembang seperti dulu. Mereka semakin didesak kehidupannya oleh ketamakan manusia dan berlari untuk menghindari buldozer buldozer besar yang siap melindas populasi salah satu dari 25 primata yang terancam punah didunia ini.

Bukan hanya itu saja, seringkali Orang Utan yang disita dari rumah warga tidak dalam keadaan baik. Beberapa waktu lalu, seekor Orang Utan ditemukan di rumah warga di Desa Simpang Gading, Aceh Barat, dalam keadaan bulu kepala mengalami kerontokan dan tubuh melemah. Primata tersebut pun dikirim ke karantina satwa di Sibolangit (analisa.com). Di lain kasus, baru baru ini 2 ekor Orang Utan ditemukan dalam keadaan kepanasan karena berada dalam kandang beratapkan seng di tempat terpisah (acehkita.com).

Jika kita tidak menjaga hutan seperti pesan nenek moyang yang sering kita baca di buku kala duduk dibangku sekolah dulu, maka kita tidak perlu membanggakan diri lagi sebagai negara Zamrud Khatulistiwa. Dan, lupakan saja sejarah jika Orang Utan pernah menjadi kebanggaan di Bumi pertiwi ini. Mungkin, hanya dalam selembaran 500 rupiah di tahun 1990an  saja mereka benar benar bisa tersenyum abadi dan bahagia.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s