SAYA “KETEMU” TUHAN HARI INI

“Ketika kamu mempercayai semua hal, maka sebenarnya kamu tidak pernah mempercayai apapun” –  Life Of Pi.

Hari ini, 10 Februari 2013. Tahun Baru Imlek,

Hai, selamat malam penduduk bumi Syariah. Hari ini adalah hari yang spesial bagi kaum Tionghoa dikota ini. Sepanjang jalan Peunayong, mayoritas chinesse tidak beraktifitas jualan pada hari ini. Saya melihat beberapa mereka berpakaian rapi, rambut anak kecil dikucir, sepertinya meriah perayaan tahun ini. Tadi sepulang Leader Cafe, saya dan beberapa teman mau pulang sebenarnya. Mengingat hari ini Imlek, kita pengen ke Tepekong buat ngeliat perayaan khas china tersebut. Kami markir motor didepan salah satu toko Vcd terlaris dikota ini dan jalan kaki. Pas nyampe didepan Tepekong yang saya lupa buat inget namanya(-_________- ), yang ada hanya dupa wangi yang udah dibakar tapi Tepekong tutup. Akhirnya kami naik becak bertiga (saya, nadia, mita) menuju sebuah gereja Katolik yang sudah cukup tua dikota ini. Menurut saya, adalah aneh kalau kita merasa takut untuk datang ke tempat rumah ibadah agama lain. Jujur, saya mengagumi gereja ini sudah cukup lama. Arsitekturnya berbeda dengan gereja atau rumah ibadah lain dikota ini. Bangunan tua tersebut bernilai historikal tinggi menurut saya. Tapi, tidak pernah sekalipun saya berani buat kesana untuk bertanya banyak tentang asal usul gereja sampai tadi sore. Saya dan teman teman galau saya (ampooon waaaaaakkk!), berhasil masuk ke pekarangan Gereja Katolik Hati Kudus. Berdiri megah didepan sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Banda Aceh, Gereja ini tetap khas. Didepannya ada beberapa tanaman rumahan seperti bunga kertas dan pohon pohon berukuran tidak terlalu besar. Seingat saya, dulu suatu pagi minggu, saya pernah mendengar lonceng berbunyi disana. Sampai dipekarangan, kami menyusuri ke dalam halaman. Rupanya, didalam pekarangan gereja ada sekolah Katolik dan dua bus sekolah. Gilak ya, 21 tahun saya tinggal dikota ini, saya baru tau kalo ada sekolah didalam pekarangannya. Seandainya ada suster atau penjaga gereja yang nongol, saya dan cs uda minta izin masuk kedalam. Seni yang ditampilkan dari rumah ibadah yang satu ini kental banget. Saya ngerasa kayak di zaman Belanda. Warna cokelat dipadu krem seakan menguatkan kalau bangunan ini memang keren banget.

Image

Image

Selesai muter muter di Gereja, temen saya si Nadia, pengen banget ke kuil. As we know, hidup di daerah syariah itu gak semudah kayak ngunyah kerupuk. Di lingkungan saya misalnya, dulu bergaul terlalu dekat dengan orang berbeda agama masih agak tabu. Argumen masih menggebu diantara yang “biasa aja” dengan yang ”gak biasa banget”. Tapi, saya sih cuek. Kalo rambut kita bisa beda warna, gak ada masalah dong kalo Tuhan kita beda. Intinya kita tetap punya Tuhan. As simple as that. Lanjut, naik becak ke Keudah. Kami pergi ke sebuah Kuil Hindu yang udah ada sejak zaman sebelum merdeka.

Image

Ini super banget menurut saya. Ada sebuah Kuil dikota syariah. Majemuk banget kan kota ini? Dan kampung ini bener bener bisa menghargai kemajemukan tersebut. Masuk kedalam kuil itu, kami ditemani pemuka agama Hindu di Kuil tersebut. Sewaktu masuk, mata itu rasanya udah kayak nari nari liat ornamen di dinding.

Image

Aroma dupa yang khas banget wanginya dan suara lagu sembahnyang Hindu menjadi diorama yang bisa saya bangun dikepala saya.  Jadi, ini merupakan Kuil Dewa Murugan. Nama Kuil ini adalah Kuil Palani Andawer. Dewa Murugan sendiri adalah Dewa kebersihan. Jadi disini gak bakal ada yang namanya bau amis atau bau gak enak. Serba bersih, gitu kata gurgel nya (red : pendeta). Ditembok itu ada seperti cerita perjalanan Dewa Murgan ini. Mulai dari kecil sampai beliau dewasa. Untuk peralatan sembahyang, mereka punya Alka. Diatas Alka yang berbentuk sperti meja kecil, ada beberapa sajian untuk Dewa Ganesha dan sebuah arca burung Camar di alka yang lain. Untuk waktu sembahyang, ada sebuah arca Dewa Murgan berukuran sedang yang mana arca tersebut hanya dibuka tirainya diwaktu pelaksanaan ibadah yang ditandai dengan bunyi lonceng 9x.

Image

Selain itu, saya tertarik pada ornamen Nandi yang ternyata punya tempat istimewa bagi kaum Hindu. Selama ini kan orang mikir kalo Sapi adalah Tuhan orang Hindu, sebenarnya itu keliru. Sapi atau yang disebut Nandi adalah hewan yang sangat berjasa. Bayangkan, kita semua rata rata minum susu sapi kan? Secara gak langsung, Nandi juga ikut “menghidupi” kita manusia. Maka dari itu, kaum Hindu sangat menghormati Nandi.

Image

Bener bener hari yang super sekali buat saya dan teman teman saya. Menurut saya, wilayah Peunayong beneran “Bhinneka Tunggal Ika” banget deh. Bisa hidup damai dan tenteram dalam kemajemukan adalah nilai paling jagoan deh dikota ini. Karena dikota ini, mayoritas adalah Islam dan mungkin agak strict ya kalo urusan “Tuhan”. Mengingat hal ini, saya tadi sepanjang jalan keingat suatu hal yang pernah saya rasain dimasa kecil.

Saya mau ngajak flashback dulu ke belakang deh. Dulu, waktu saya masih kecil, saya memang udah muslim dari lahir. Tapi, saya kayak masih punya pertanyaan seputar “kemusliman” saya. Bukan saya meragukan Tuhan, tapi saya mikir kenapa agama kita berbeda beda dikasih ama Tuhan. Sekitar umur 5 tahunan, saya menyukai lagu lagu gospel, saya senang lihat kutbah minggu di tipi sampai orangtua saya melarang. Mungkin ini yang salah, saya dilarang bukan dijelaskan, jadi saya tetap mencari tau.

Kebetulan, dulu tetangga depan rumah saya muallaf akan tetapi ibunya masih beragama kristen. Saya masih sering melihat beliau membeli pernak pernik Natal. Ternyata, saya hanya senang tapi pertanyaan saya tentang Agama tidak terjawab. Yang namanya anak kecil, rada ekstrem kali ya buat nyari tau sesuatu. Sekitar SD kelas 4, saya mulai tertarik ke agama Budha. Yang saya ingat banget, saya “nyembah” vas bunga nenek saya, dan dupa yang digunakan saya ganti dengan lidi. Saya nyembah seperti orang Budha sembahyang. Dan lagi lagi, pertanyaan saya tidak terjawab. Saya pada saat itu penasaran, kenapa Tuhan saya hanya hidup dalam doa. Saya gak tahu gimana bentuknya. Otak saya selalu berimajinasi, seperti apa bentuk Tuhan Saya. Sampai Tuhan takdirin saya untuk masuk pesantren. Disini, saya menemukan identitas saya sebagai muslim dengan alasan alasan yang kuat. Saya tidak meragukan mana yang benar ataupun mana yang salah. Menurut saya, hati adalah kompas terbaik untuk menemukan jalan “Tuhan”.

Mungkin waktu saya kecil, ayat kitab suci bagi saya hanya sebatas hafalan agar cepat diizinkan pulang cepat sewaktu belajar mengaji ataupun agar nilai bagus ada di raport saya. Lambat tapi pasti, seiring menuanya umur saya, saya semakin menemukan bahwasaya, apa yang sudah ada didiri saya memang harus begini dan saya mensyukurinya.

Setiap orang telah dibekali kemampuan untuk memilih sejak ruhnya ditiupkan. Maka, apapun yang dipilih ketika manusia menjadi hidup, itu adalah kehidupan yang dia bangun. Bahkan untuk memilih Tuhan. Walaupun Tuhan kita berbeda beda, tapi kita semua adalah benar adanya diciptakan oleh Tuhan dan tidak perlu menuhankan diri untuk menempati posisi istimewa didunia. Istimewa hanya milik yang maha Kuasa, dan kita adalah ciptaan yang haru selalu menjalani apa yang dititpkan secara damai dan bersama sama. Apa sih artinya selalu memperdebatkan siapa yang benar di mata Tuhan kalo Tuhan sendiri sebenarnya selalu punya kebijakan sendiri?

Anyway, saya muslim. Dan ini masjid paling bersejarah dikota saya :

Image

Image

Image

Mesjid ini sejarahnya juga gak kalah keren. Dulu, Jendral Kohler meninggalnya disini karena tertembak oleh para sniper Aceh (keren amat ya sniper bahasanya :p) . Waktu Tsunami, Mesjid ini gak kenapa kenapa, dan air sama sekali gak masuk kedalam area mesjid. Maha Besar Allah Atas Segala Kuasa-Nya. Jadi, jangan ngaku pernah ke Banda Aceh kalau belum pernah ke Masjid Raya Baiturrahman. Ini liat ini, saya udah foto di tempat ini sejak kecil :p

Image

saya baru tau kalau ternyata kota ini punya banyak tempat yang bisa jadi tempat wisata. kayaknya saya harus capek kalau selalu disodorkan bentuk wisata yang berkaitan dengan Tsunami. Wake up, dude! Banda Aceh punya banyaaaaaaak sekali tempat yang berpotensi wisata. selama ini, cukup perhatian kah dengan kota ini? jangan-jangan baru tau kalo di kota ini juga banyak tempat ibadah? ini menunjukkan bahwa Aceh sangat menghargai perbedaan bahkan untuk hal yang prinsipil sekalipun. Apapun yang kamu yakini saat ini, pilihlah satu, dan itu akan selalu menjadi satu-satunya sampai kamu tidak terbangun lagi.

See! Walaupun kita berbeda “Tuhan”, tapi kita semua punya Tuhan yang hebat kan? ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s